Guest Reguler

Joined: 08 Oct 2006 Posts: 22
|
Posted: Tue Oct 27, 2009 1:35 pm Post subject: Anjingku mati |
|
|
Anjingku mati
Ketika masih duduk di kelas V SD, saya diajak oleh teman saya untuk mengikuti pendidikan agama Katolik (katekumen) di salah satu gereja di Jakarta. Karena merasa tertarik, saya mencoba ikut. Sampai di sana, suasananya benar-benar lain dari yang saya bayangkan. Saya pikir seperti suasana sekolah yang bersifat formal. Tapi ternyata saya bisa mengikutinya dengan santai.
Selesai katekumen, saya dan sepupu saya mengikuti perayaan ekaristi (misa) yang dimulai pukul 06.00 sore. Suasana misa sore itu amat ramai, banyak sekali umat yang hadir, tidak seperti biasanya. Ada seorang umat yang bertanya mengapa misa sore ini begitu ramai. Saya yang baru pertama kali mengikuti misa pun merasa seolah-olah Tuhan menyambut saya dengan pesta yang meriah dan tangan terbuka. Hari itu sungguh hari yang tak terlupakan bagi saya.
Saya merasa bahwa Tuhan menuntun jalan hidup saya dan menerangi jalan saya. Sejak mengikuti katekumen, saya merasa Tuhan dekat, menyayangi dan menjaga saya. Hal itu sungguh saya rasakan. Prestasi saya meningkat dan pergaulan saya makin luas.
Sudah beberapa bulan saya mengikuti katekumen. Suatu ketika, anjing yang saya sayangi jatuh sakit. Saya berdoa kepada Yesus agar menyembuhkannya. Umurnya belum setahun dan saya tidak menghendaki kematiannya. Sore hari sakitnya bertambah parah dan saya semakin khusyuk berdoa kepada Tuhan, Bunda Maria, para Malaikat dan para Rasul. Namun setengah jam kemudian anjing itu pun mati. Saya merasa sangat sedih, tarutama karena Tuhan tidak membantu saya. Timbul perasaan marah pada Tuhan. Saya jadi malas mengikuti katekumen dan tidak pergi ke gereja lagi.
Setahun kemudian, sepupu saya dibaptis. Saya merasa tertinggal darinya. Pelajaran saya juga menurun, pergaulan jadi sempit, saya menjadi pribadi yang terpojok.
Akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak dapat hidup tanpa Yesus. Saya sangat membutuhkan dukungan dan berkatNya. Katekumen pun saya ikut kembali. Setahun kemudian saya dibaptis. Saat itu saya merasa seakan-akan Tuhan merangkul saya. Kehidupan baru telah menanti saya. Kegembiraan yang saya rasakan sekarang tiada bandingnya dengan pengalaman sebelumnya, sekali pun anjingku yang telah mati itu hidup kembali. (Budi)
* |
|